Bak Trauma Abadi, Teuku Wisnu Pilu Kenang Getirnya tragedi tsunami 16 Tahun Aceh: Selalu Merinding Ingat Kejadian Itu


Dikenal sebagai artis asal Aceh, Teuku Wisnu ikut mengenang getirnya tragedi tsunami 16 tahun lalu yang meluluhlalantakkan Aceh.

Bak trauma abadi, Teuku Wisnu mengaku tak pernah bisa melupakan peristiwa Tsunami Aceh pada 2004 silam.

Bahkan suami Shireen Sungkar ini selalu merinding tatkala mengingat gulungan ombak menyapu bersih daratan Aceh.

Jeritan tangis dan kesakitan rupanya masih begitu terekam jelas dalam ingatan Teuku Wisnu.

Kini 16 tahun berlalu, Teuku Wisnu ikut mengenang kembali tragedi ngeri tersebut.

Lewat akun Instagramnya, adik ipar Zaskia Sungkar ini mengunggah sebuah foto pilu saat Tsunami menerjang Aceh.


Tampak Masjid Baiturahman masih berdiri kokoh di antara semua bangunan yang sudah rata dengan tanah.

Terlihat puing-puing bangunan berserakan akibat hancur digoncang gempa dan disapu tsunami.


Dalam unggahannya, Teuku Wisnu mengaku selalu merinding mengingat tragedi dahsyat itu.

"16 TAHUN TSUNAMI ACEH⁣
Hari ini, enam belas tahun silam, saya selalu merinding mengingat kejadian itu." tulis Teuku Wisnu mengawali.

Aktor 35 tahun ini kemudian menceritakan bagaimana dahsyatnya Tsunami meluluh lantakan Aceh.

Diketahui sebelum datang tsunami, warga Aceh lebih dulu merasakan gempa dengan skala yang begitu besar.

Tak berselang lama setelah gempa, teriak warga Aceh makin menjerit tatkala air laut menyapu bersih mereka, keluarga dan bangunan-bangunan.

Ratusan ribu jiwa pun menjadi korban dalam tragedi Tsunami Aceh tersebut.

"Di Acehku, bumi berguncang 9,1 sekala richter dan menelan 230.000-280.000 jiwa dalam kurun waktu 8-15 menit, air setinggi 30 meter menyapu daratan Serambi Mekah. ⁣" lanjut Teuku Wisnu.

Kendati sudah 16 tahun berlalu, diakui Teuku Wisnu, hatinya selalu rapuh ketika mengingat kembali musibah itu.

Kini ia hanya mampu berdoa agar para korban tewas Tsunami Aceh mendapat tempat terbaik di sisi Sang Kuasa.

"Meski sudah 16 tahun berlalu, namun perasaan sedih ini masih sama.

Semoga yang menjadi korban diterima di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan untuk keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.⁣" lanjutnya lagi.

Sementara itu untuk mengenang Tsunami Aceh, pemerintah membuatkan sebuah Museum yang menjadi saksi bisu dahsyatnya Tsunami Aceh 2006 silam.

Berikut sejumlah potret bukti dahsyatnya tsunami Aceh yang tersimpan rapi di Museum Tsunami Aceh seperti dihimpun Grid.ID dari Instagram.

Museum Tsunami Aceh memiliki desain bangunan yang unik, yakni atapnya membentuk gelombang laut apabila dilihat dari ketinggian.

Seperti inilah potretnya dari atas yang diunggah di Instagram @museumtsunamiaceh:


Memasuki pintu masuknya, pengunjung harus melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding yang tinggi.

Rupanya pintu masuk sengaja dibangun demikian untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan yang dialami para korban saat tsunami.

Seperti namanya, Museum Tsunami Aceh menyimpan sederet bukti kedahsyatan tsunami Aceh, seperti helikopter hingga truk.

Satu di antaranya adalah bangkai helikopter milik kepolisian yang hancur seperti diunggah oleh Instagram @cuneng_cemong97 berikut ini.


Lalu, terdapat pula bangkai truk serta akar pohon yang tercabut akibat kuatnya gelombang tsunami yang menyapu Tanah Rencong.

Seperti yang tampak pada foto yang diunggah di Instagram @museumtsunamiofficial ini.


Jika helikopter hingga truk saja bisa hancur seperti tampak pada sederet potret di atas, maka tak dapat dibayangkan bagaimana nasib para korban ketika mendapat terjangan tsunami Aceh.

Untuk memperingati para korban, terdapat ruangan diorama kondisi kota Banda Aceh saat diterjang gelombang laut setinggi lebih dari 30 meter.


Terdapat pula satu ruangan di museum yang pada dindingnya tercantum deretan nama orang-orang yang meninggal dalam tragedi tersebut.

Ribuan nama yang ditulis dalam huruf timbul ditempelkan di dinding berwarna hitam tersebut.


Bukti 14 tahun tsunami Aceh tersimpan di Museum Tsunami Aceh
Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi para korban tewas, rupanya museum ini juga berfungsi sebagai tempat perlindungan dari bencana tsunami di masa depan.

Letaknya yang berada di ketinggian membuat museum ini dapat menjadi bukit pengungsian bagi pengunjung jika tsunami menerjang tanah Aceh sekali lagi. 

(TribunSyle.com/Octavia Monalisa,Grid.ID/ Puput Akad) 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel